Gelora Hati

Aku berjalan di muka bumi,
Tidak rata namun mendatar,
Berjalan aku kehadapan merentasi segala rintangan,
Badan yg putih suci bercalar balar,
Ia tidak hilang,
namun sembuh meninggalkan fibrosis kematangan.

Berjalan lagi aku kehadapan ke masa kini,
Melihat tapak kaki di pasir halus memutih,
Aku nampak bodoh, aku lihat jahil,
Tergelak senyum dalam tangisan tawa yang namun sedih,
Berjalan aku lagi.

Entah seribu batu atau sekangkang kera aku merentas,
Hanya yg mencipta langkah yg tahu,
Lalu aku terduduk melutut,
Keluh letih jauh berjalan,
Letih tidak mampu.

Dalam duduk antara sembahan kudus ke bumi,
Aku melihat fibrosis yg melakar di tubuh yg dahulunya putih tiada cela,
Aku bukan yg dahulu lagi,
Aku geram kerana adanya yg buruk merosakan pandangan.

Lalu dtg ia, sebagai peringatan,
Terjaga aku dari kemarahan,
Dan sejuk aku mengalirkan mata air.

Aku bukan lagi yg dahulunya bersih,
Sucikah lagi? Atau kotor jatuh ke longkang?
Dimana aku? Dimana aku?
Dimanakah putih? Dimana pula hitamnya?
Apa pula iman akan mengata?
Atau dia juga hilang entah kemana.

Gelora hati yg membolak-balikan mimpi indah,
Menghanyutkan segala tawa,
Mengkaramkan bahtera hati,
Tiada yg mengerti gelora hati ini hanya tuannya,
Lebih dari yg si pembawa,
Dan aku hanya meminjam dan menjaga.

Ya Allah,
Selimutkan aku,
Selamatkan aku,
Hatiku milikmu.

Advertisements

Comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s